
Perpustakaan IAI Persis Garut merilis daftar penerima Apresiasi Literasi 2025 sebagai bentuk pengakuan atas tingginya pemanfaatan fasilitas akademik sepanjang tahun. Penghargaan ini didasarkan pada rekapitulasi data sirkulasi dan kunjungan yang menunjukkan intensitas interaksi sivitas akademika dengan sumber ilmiah. Pendekatan berbasis data ini penting karena penggunaan perpustakaan sering berkorelasi dengan kesiapan belajar, kedalaman riset, dan kualitas keluaran akademik.
Pada kategori peminjaman buku, Dudi Santosa dari Program Studi MPAI menempati posisi pertama dengan total 25 peminjaman selama tahun 2025. Siti Aisah berada pada peringkat kedua dengan 15 peminjaman, diikuti Indira Falentina Suryana dengan 14 peminjaman. Adapun daftar lengkap sepuluh mahasiswa teraktif adalah sebagai berikut.
Komposisi ini menunjukkan konsistensi mahasiswa dalam memanfaatkan literatur sebagai rujukan utama belajar. Pola tersebut menegaskan pergeseran perilaku akademik menuju pembelajaran berbasis referensi, bukan sekadar materi kelas.
Sementara itu, kategori kunjungan perpustakaan menempatkan Indira Falentina Suryana sebagai pengunjung paling setia dengan 65 kali kehadiran. Dudi Santosa dan Ernawati menyusul dengan masing masing 57 dan 52 kunjungan. Tingginya frekuensi hadir secara fisik menunjukkan bahwa ruang perpustakaan tetap relevan sebagai pusat belajar kolaboratif, bahkan di tengah meluasnya akses sumber digital. dapun daftar lengkap sepuluh mahasiswa teraktif adalah sebagai berikut.
Perpustakaan juga memberikan Apresiasi Khusus kepada Ibu Devia Nurbaeti, M.Pd., sebagai dosen aktif yang konsisten memanfaatkan koleksi referensi berkualitas untuk pengembangan materi ajar dan riset bimbingan konseling. Keteladanan dosen dalam menggunakan sumber ilmiah memiliki efek institusional yang kuat karena terbukti mendorong mahasiswa mengikuti praktik akademik yang sama.
Para penerima penghargaan memperoleh hak peminjaman istimewa hingga lima buku dalam satu waktu, tambahan durasi pinjam selama satu pekan, serta merchandise eksklusif. Kebijakan ini dirancang sebagai insentif akademik agar perilaku belajar berbasis bacaan semakin mengakar.
Namun demikian, data ini juga memberi pesan strategis. Tingginya aktivitas pada sebagian pengguna mengindikasikan adanya kelompok inti pemustaka yang menopang sirkulasi koleksi. Tantangan berikutnya adalah memperluas partisipasi agar budaya literasi tidak terkonsentrasi pada segmen tertentu. Sinergi antara dosen, program studi, dan perpustakaan menjadi faktor kunci untuk mendorong mahasiswa menggunakan sumber kredibel dalam setiap proses pembelajaran.
Melalui Apresiasi Literasi 2025, perpustakaan menegaskan perannya bukan hanya sebagai penyedia koleksi, tetapi sebagai infrastruktur akademik yang menopang mutu pendidikan tinggi. Ketika kunjungan meningkat dan peminjaman bertumbuh secara sehat, institusi sedang membangun fondasi penting bagi ekosistem riset yang berkelanjutan dan berdaya saing.